Wednesday, February 12, 2014

Untuk yang Besok Akan Ditemui



Rasanya agak sedikit segan untuk menulis surat ini, mengingat beliau kelak adalah dosen yang akan setia menemani hamba hingga lulus. 

Aku harus menemuinya besok dan rasanya jika harus dibayangkan, aku tak sanggup. Beliau sosok yang sangat sangat, hmm bagaimana aku mengatakannya ya, sepertinya baik, tapi tidak ramah, galak, dan kata katanya sangat ketus untuk didengar oleh maba imut seperti saya.
Bahkan perjumpaan pertama kami, bisa dibilang kurang baik. Aku meninggalkan kesan yang kurang.... yah mahasiswa..... Aku yang seharusnya sudah mengumpulkan berkas krs 3 hari setelah ospek, baru mengumpulkan sebulan setelahnya.
Alasannya klasik, aku terlalu malas untuk menemui dan menunggui sang dosen dengan setia. Ditungguin dari pagi, nggak pernah ada. siang kesana lagi, ternyata udah pulang. Nggak bisa mengeluh lagi lah, memang beliau yang punya kuasa.

Dosen pembimbingku yang satu ini, memang bisa dikatakan sudah cukup senior di kampus dengan menyandang gelar professor, dan sudah cukup tua juga (maaf prof), sehingga terkadang cukup sulit menemuinya di kala kuliah. 
Bahkan di semester awal awal ini, saya belum diberi jatah untuk mengambil kelas beliau. Jadi saya belum terlalu mengenal beliau seperti apa. sedikit lega juga sebenarnya. Jujur saya belum menyiapkan mental benar untuk bertatap muka langsung dengan beliau.

Namun namanya juga jodoh antara mahasiswa dan dosbingnya, entah kenapa ya, setiap kali naik lift kami sering berpapasan. Padahal hmm hmm. Kami sama sama memiliki porsi tempat yang lebih. Jadi tentunya ada sedikit rasa tidak enak terhadap penggunjung lift yang lain. Terkadang aku memilih untuk tidak menaiki lift bersamaan dengan beliau. Lalu naik tangga-__

Tidak hanya lift, perjumpaan kami terkadang juga berada di lorong. Aku selalu mencoba untuk tersenyum kepadanya, bahkan selalu menundukkan kepala, namun selalu juga diacuhkan oleh beliau. huft


Pernah sekali, karena sedang tergesa tergesa mengumpulkan tugas, saya menanyakan letak loker salah satu dosen kepadanya(tentunya dengan basa basi dan sopan santun), kemudian beliau menjawab, dengan muka yang terus menatap layar leptopnya, "bukan urusan saya". serasa tersambar petir, aku membeku sejenak, lalu dengan muka yang sangat tidak enak memohon maaf karena telah mengganggu waktu beliau.

sejak saat itulah, perasaan takut mulai berkecamuk didalam diri saya. Ya ampun itu dosbing saya. Gimana nasibku kelak. Ya Allah......

Dan besok, sekali lagi, hamba harus mengumpulkan krs di tempat beliau. 

Yang terhormat, Professor ku yang manis nan cantik jelita
Bisakah besok engkau memberi harapan untuk mahasiswi mu yang satu ini
Berikanlah satu senyuman terbaikmu, biar saya bisa ikut tersenyum juga
Tak untuk hari esok saja, tapi untuk hari hari kita bersama kelak
Dan kemudian mudahkanlah perkuliahan mahasiswi mu yang satu ini prof
Mudahkanlah........

Jangan galak galak ya prof. saya takut. fix.




No comments:

Post a Comment